Tidak Ada Lagi Kesempatan Mendapatkan $2255 Itu

Google AdSense melalui blog resminya mengumumkan penghapusan sistem referral Google AdSense untuk publisher yang berdomisili di luar Amerika Utara, Amerika Latin, Jepang. Ya, termasuk Indonesia tentunya. Dengan demikian, kita tidak bisa lagi mempromosikan referral link kita, mengumpulkan downline sebanyak-banyaknya, dan berharap mendapatkan komisi hingga $2255 seperti yang dulu dijanjikan. Satu lagi bukti bahwa Google AdSense semakin tidak mempedulikan publisher?

We’ve found that this referral product has not performed as well as we had hoped in these regions.

Itu dalih yang diberikan oleh pihak Google AdSense. Ya, memang, hingga detik ini saya belum menemukan ada publisher yang berhasil mendulang komisi referral sebesar $2255. Namun dari komisi $5 dan $250, saya yakin jumlahnya tidak sedikit. Dengan suntikan referral baru setiap hari, saya pun sudah terbiasa mendapatkan komisi-komisi tersebut.

Apa itu tetap berarti tidak performed well?

Atau mungkin dana komisinya sudah habis dipakai jalan-jalan liburan akhir tahun kemarin?

Entahlah. Tapi di sisi lain, bisa jadi ini merupakan efek dari banyaknya orang-orang serakah yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan bonus referral tersebut. Misalnya dengan membuat e-book atau kursus yang materinya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Modus utamanya, (1) menggiring orang untuk mendaftar ke Google AdSense melalui link referralnya; (2) memberikan cara cepat untuk mendapatkan $100; dan (3) berharap orang tersebut tidak dibanned sehingga ia mendapatkan komisi referral untuk orang tersebut.

Hmmm, jadi ingat. Tanggal 11 besok di AJBS ada seminar “Cara mendapatkan uang dari Google” atau semacam itulah. Yang menyelenggarakan EastJava.com. Yang di Surabaya, dateng yuk. Nanti kalau seminarnya ngajarin cara-cara gak bener, kita hujat ramai-ramai di blog, hihihi.

Cek Whois EastJava.Com, eh ternyata yang punya (atau setidaknya yang mendaftarkan domain tersebut) tempat tinggalnya deket rumahnya bos Rony. Jangan-jangan juragan parkir itu yang nyelenggarain seminar, hehehe.

Anyway, kembali ke topik, penghilangan referral AdSense ini dikatakan akan berlaku “secepatnya”, namun sepertinya akan diimplementasikan pada akhir bulan Januari ini dalam bentuk penghapusan pilihan Google AdSense pada bagian Referrals yang ada di AdSense Setup area akun AdSense Anda. Perubahan ini tidak mempengaruhi produk-produk referral yang lain seperti Firefox, Google Pack, dan lain sebagainya.

Sebagai catatan, publisher yang berdomisili di Amerika Utara, Amerika Latin, dan Jepang masih dapat mempromosikan referral link AdSense mereka, namun dengan “sedikit” penyesuaian terhadap komisi yang diperoleh.

We have decided to conclude this experiment and return to the original pricing structure. As a result, we’ll soon no longer be offering the $5 bonus or $2000 bonus, and the payout for referring a user who generates $100 with AdSense in the first 180 days will return to $100.

Ada pendapat?

PS: Gambar diambil dari http://www.cartoonstock.com

Artikel ini ditulis oleh Cosa Aranda dan pertama kali dipublikasikan pada tanggal 9 January 2008. Artikel bebas untuk didistribusikan ulang untuk keperluan non-komersil selama mencantumkan nama penulis dan sumber artikel serta tidak merubah separuh atau seluruh bagian dari isi.

Pitra Satvika: “Blog Bagian Dari Upaya Blogger Menjual Kemampuan Dirinya”

Dalam wawancara berseri mengenai “Prediksi Bisnis Internet Indonesia 2008” ini saya memang sengaja ingin mengangkat opini para pakar bisnis internet lokal yang berdiri di segmen yang berbeda-beda. Seperti halnya wawancara dengan mas Pitra Satvika (yang tidak mau dipanggil dengan embel-embel mas, hehehe) berikut ini. Ia saya pilih karena, selain sudah mengalahkan blog ini di pemilihan blog terbaik kategori Online Marketing and Sales pada ajang Pesta Blogger, juga karena rajin mengamati perkembangan dunia periklanan dan gejolak Web 2.0 di Indonesia. Oleh karen itu, pendapat mas Pitra mengenai bisnis internet Indonesia di tahun 2008 tentu lah menarik untuk diikuti. Siap?


Bagian berikut ini sama persis dengan jawaban yang diberikan oleh narasumber, tanpa ada bagian yang diubah / dimodifikasi, kecuali penambahan tautan (jika ada), koreksi typo, dan format tulisan (cetak tebal, miring, dll).

Bagaimana pendapatnya tentang perkembangan bisnis internet Indonesia di tahun 2007 barusan?

Tahun 2007 kemarin mulai tumbuh lagi dotcom baru. Pendekatannya sekarang lebih ke basis komunitas. Bahkan brand yang melakukan kampanye online pun selalu mereferensikan website komunitas seperti Friendster sebagai salah satu modelnya (terlepas dari apakah mereka berhasil/tidak berhasil ya dalam membangun website komunitas). Yang justru terlihat berhasil malah website yang dibangun oleh anak muda sendiri, seperti LiveConnector.com, Indo-Friendster.com, atau Fupei.com. Yang juga menarik adalah perkembangan website yang sudah Web 2.0, seperti MoodMill dan WikiMu, dimana website hanya menjadi sarana aktivitas anggotanya. Website tidak lagi hanya sebagai penyedia konten. Biarkan anggota yang menciptakan konten dari aplikasi yang sudah disiapkan oleh website.

Apakah di tahun 2008 nanti kondisi tersebut akan bertahan atau mengalami perubahan?

Tahun 2008 pasti akan mengalami peningkatan. Semakin banyak yang akan mencoba membuat mashup sebagai bagian dari website. Integrasi dengan feed dari YouTube, Flickr, Amazon, LastFM, GoogleMaps, dll akan semakin terlihat. Semuanya disesuaikan dengan tema dan kebutuhan website. Cara brand berkampanye bisa jadi akan juga berubah. Kalau tahun 2007, orang diajak untuk masuk ke microsite (website berusia pendek yang dibuat khusus untuk kampanye) supaya bisa berinteraksi dengan brand, maka kalau tahun 2008, orang akan berinteraksi dengan brand langsung dari blog/website yang biasa dikunjunginya, tanpa orang itu harus berkunjung ke microsite.

Dengan semakin banyak masyarakat yang melek akan potensi bisnis online, apakah ini akan membawa perubahan dalam kondisi bisnis offline di Indonesia?

Online dan offline nggak akan bisa dipisahkan, sepanjang barang yang dijual masih berupa fisik. Online hanya untuk membantu mempercepat pemasaran saja. Tapi tetap saja, kalau nggak ada barang yang dijual, online nggak ada gunanya. Kecuali, kalau memang barang yang dijual di online ini berupa konten atau software, atau menjadi affiliate atau reseller dari produk orang lain.

Peran pemerintah dalam membantu pengembangan bisnis internet hingga sekarang terasa masih kurang. Bagaimana dengan tahun 2008 nanti?

Pertanyaannya, apa sih yang kita butuhkan sekarang dari Pemerintah? Pemerintah hanya memberikan regulasi saja, pelaksananya ya dari kita-kita juga. Kalau berharap di tahun 2008 ini seluruh masyarakat Indonesia ini punya akses internet cepat masih mimpi nggak ya? Tapi yang jelas, minimal Depdiknas sudah membangun Jardiknas yang mulai menghubungkan ribuan sekolah di Indonesia, mulai dari Pulau Jawa. Btw, kalau Jardiknas ini bukan mimpi loh, ini memang sudah mulai diwujukan oleh Depdiknas.

Bagi individu / personal, bagaimana prospek “make money from blog”di tahun 2008?

Kalau hanya mengandalkan AdSense, AdBrite atau sebangsanya untuk mendapatkan revenue dari blog kayaknya kok kecil ya. Tapi menurut saya, nggak semua revenue dari blog itu bersifat langsung seperi iklan. Bisa jadi, blog hanya sebagai bagian dari upaya blogger menjual kemampuan dirinya. Kalau si blogger rajin menjual kemampuan dirinya kesana kemari, bukan nggak mungkin dia dapat peluang revenue yang lebih besar dari kemampuannya ini. Hehe, kalau untuk contoh ini sih saya sudah cukup banyak mendapat rejekinya. Jauh lebih besar daripada cuma mengandalkan iklan teks kontekstual.

Apa yang kira-kira akan menjadi andalan bagi blogger di tahun 2008? Apa akan masih tetap mengidolakan Google AdSense?

Kalau individu, mau bilang AdSense dan sebangsanya tapi kok nggak yakin juga ya, melihat semakin kecilnya jatah kue iklan yang bisa diambil. Tapi belum ada alternatif lain yang mudah dan tidak mengganggu kenyamanan blogging sih. Kecuali kalau mau mencoba mengerjakan afiliasi dan reseller, meski ini artinya harus punya website terpisah, karena nggak bisa dilakukan sambil blogging.

Bagaimana dengan bisnis affiliasi dan “wirausaha” online (berjualan produk sendiri)? Mana yang akan lebih berkembang di tahun 2008?

Kalau hal yang satu ini saya juga belum pernah coba. Jadi nggak bisa comment apa-apa. Mungkin Mama Lauren bisa membantu?

Program PPC lokal mulai bermunculan, seperti Affiliates Indonesia, KumpulBlogger, dll. Bagaimana pendapatnya tentang ini? Bagaimana prospek mereka di tahun 2008?

PPC versi lokal bisa sukses bisa juga nggak, tergantung mau ditargetkan ke pasar yang mana nih? Kalau targetnya untuk yang budgetnya terbatas, bisa jadi mereka tertarik. Tapi kalau untuk brand besar, hitungan PPC terlalu membingungkan. Mereka lebih terbiasa hitungan placement per periode (mis: bulanan). Sekarang, bagaimana caranya PPC versi lokal ini bisa diadaptasi sesuai kebutuhan pasar di Indonesia.

Apa harapan bagi dunia bisnis internet Indonesia di tahun 2008? Ada pesan-pesan khusus bagi pebisnis internet Indonesia?

Harapannya ya tambah maju. Kalau nggak maju dan bertambah menguntungkan, saya nggak akan kerja di bidang ini. Hehe.. Pesan saya cuma apa pun bisnis Anda tetaplah Anda lakukan dengan jujur (atau sejujur mungkin..hehe..). Jangan bermain scam, atau lihat apa yang terjadi kalau seluruh isi bumi kena scam para alien di DVD movie Futurama (nggak ada hubungannya, tapi filmnya lucu abis).


Ada dua bagian yang mungkin dapat saya garisbawahi dari hasil wawancara di atas. Yang pertama, blog dapat digunakan sebagai sarana “jual diri” (baik yang berarti positif maupun negatif, hehehe). Dan yang kedua, PPC lokal harus dapat beradaptasi dengan iklim periklanan di Indonesia apabila ingin maju. Saya rasa yang kedua ini penting sekali karena saya juga ingin melihat PPC lokal maju terus pantang mundur dan mampu bersaing dengan PPC internasional.

Tapi ngomong-ngomong kok gak pernah ada pemilik PPC yang ngajakin saya joint-venture sebagai endorser ya? musik

Artikel ini ditulis oleh Cosa Aranda dan pertama kali dipublikasikan pada tanggal 7 January 2008. Artikel bebas untuk didistribusikan ulang untuk keperluan non-komersil selama mencantumkan nama penulis dan sumber artikel serta tidak merubah separuh atau seluruh bagian dari isi.